Memulai (1)

Pernahkah teman-teman berat memulai sesuatu?
Aku pernah. Sering malah. Berat sekali rasa untuk memulai sesuatu hal yang belum pernah aku lakukan.

Beberapa kali harus berangan atau berandai.
“Nanti jikalau seperti ini… aku akan melakukan ini. Nanti saja kalau begini… baru aku bisa…”
Kata “nanti”, kata “jika”. Uhh. Kata-kata itu jadi kambing hitam buat diriku yang tak bertekad untuk memulai sesuatu itu. Kata-kata itu jadi alasan buat diriku yang sering malas melakukan sesuatu.

Padahal kalau kita sudah memulai, kemudahan-kemudahan itu akan datang menghampiri.
Padahal kalau kita sudah memulai, kebaikan-kebaikan pun datang silih berganti.

Iklan

Terancam : Tentang Rezeki

A : Aku sedih.
B : Kenapa?
A : Hmm… Teman-temanku yang bukan anak busana, pada punya usaha busana. Bikin brand sendiri. Aku merasa terancam dan minder.
B : Tenang aja. Kita punya ilmunya. Jika yang lain nyemplung usaha bidang busana cuma karena ikut-ikutan tren. Kita harusnya jangan cuma ikutan arus aja. Bisa menggali ide-ide yang lain. Menciptakan tren,
A : Tapi… rasanya berat, aku pesimis… Perang-perangan harga. Murah-murahan. Padahal belajarnya dibelain sampai nangis-nangis.
B : Ingat ada Allah. Rezeki Allah itu luas. Rezeki seseorang tidak akan tertukar. Percaya dan yakinlah.
A : Iya ya…
B : Berdoa dan berusaha.

Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan

Hidup juga tentang perjuangan. Memperoleh sesuatu butuh perjuangan. Tak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Pun dengan kebaikan. Mengapa orang lain bersikap baik sama saya? Karena saya bersikap baik pada mereka. Tetapi jangan sampai ada pikiran: dia bersikap jahat kepada saya, berarti saya harus balik bersikap jahat pada mereka.

Kebaikan yang kita lakukan, akan kembali kepada diri kita (bisa dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang berbeda).

Balik ke perjuangan. Sampai sekarang aku sudah berjuang, namun hasilnya belum terlihat. Atau saya sudah berjuang, namun aku masih mendapatkan kesulitan. Apa yang salah? Continue reading “Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan”

Done is Better than Perfect : Selesai Lebih Baik daripada Sempurna

Banyak pelajaran hidup yang tidak saya dapatkan di dalam kelas sekolah maupun kelas kuliah. Pelajaran-pelajaran itu baru diuji ketika masa-masa sulit kuliah. Salah satu pelajaran yang setahun terakhir ini terasa adalah “selesai lebih baik daripada sempurna”.

Di masa sekolah, dari SD sampai SMA/SMK kita dituntut untuk selalu melakukan kesempurnaan. Kesempurnaan ini terlihat dari anak yang mendapat nilai 100 adalah anak hebat. Sempurna! Kita dituntut untuk selalu melakukan dan mendapatkan nilai yang terbaik dalam semua bidang. Ada juara kelas. Belum ada juara perminatan. Ya begitulah sistem pendidikan kita.

Continue reading “Done is Better than Perfect : Selesai Lebih Baik daripada Sempurna”

Hikmah Salah Jurusan

Sesak rasanya kalo salah jurusan. Sedih juga. Dari peristiwa ini, saya dapat memperoleh beberapa hikmah.

Rasulullah SAW bersabda,

”Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

1.Belajar memilih, dan menentukan keputusan.
Dalam hidup, kita akan menemukan beberapa pilihan. Baik dan buruk. Benar dan salah. Kita harus menentukan pilihan mau ambil yang baik atau yang buruk, kemudian memutuskan mana yang akan kita ambil. Pilihan A memiliki risiko yang berbeda dengan pilihan B. Pun juga, pilihan B memiliki keuntungan/manfaat yang berbeda dengan pilihan A.

Continue reading “Hikmah Salah Jurusan”

Manajemen Peragaan Busana

Manajemen Peragaan Busana terlaksana pada Januari 2017. Jadi, tahun ini aku menyelesaikan dua pagelaran yang aku tunda-tunda sekian lama.

Manajemen Pagelaran Busana pada kali ini, bertemakan Devocyciv. Ciri busana pada tema kali ini yaitu menggunakan teknik TR Cutting. Untuk busana yang saya kenakan, dibuat pada mata kuliah Adi Busana. Mata kuliah Adi Busana mempelajari bagaimana cara menjahit dengan teknik tinggi (adi), dan halus. Tidak ada bagian kampuh yang diobras. Bagian kampuh harus disetik kecil yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan diobras. Untuk bagian kelim, tidak boleh ditindas/dijahit mesin, harus di-soom. Continue reading “Manajemen Peragaan Busana”

Selesaikan Diri Sendiri

Hal yang sering diremahkan orang adalah menyelesaikan diri sendiri. Menyelesaikan diri sendiri merupakan usaha untuk menggali hal-hal yang diinginkan diri kita, hal-hal apa yang disukai atau yang tidak disukai, bagaimana kepribadian kita. Hal-hal tersebut akan sangat membantu kita untuk mengembangkan diri.

Masih banyak orang-orang yang tak paham dengan dirinya sendiri. Masih suka ikut-ikutan atau manut dengan keinginan orang lain. Ujung-ujungnya, kalo begini, nanti akan ada perasaan tertekan atau malah memberontak. Kita jadi gak bebas dalam mengekspresikan diri sendiri. Enggak enakan. Padahal kalo kita jujur dengan diri sendiri, semuanya jadi enak aja. Kitanya enak senang, orang lain pun juga nyaman. Continue reading “Selesaikan Diri Sendiri”

Merawat Mimpi

Masih ingat ketika sekolah dasar, kita seringkali ditanya bapak/ibu Guru,”Apa cita-cita kalian anak?” Dengan percaya diri, banyak yang menjawab : dokter, guru, polisi, tentara, guru. Itu jamanku pas sekolah dasar. Bagaimana dengan saat ini? Apakah masih sama? Masih punya cita-cita kan? Lupa? Atau malah sudah tak punya cita-cita.

Merawat mimpi, susah-susah gampang. Semakin bertambah usia, semakin banyak realita hidup yang nampak. Semakin banyak HTMG (hambatan, tantangan, masalah, gangguan) yang menghadang. Kita lebih sering fokus ke masalah tersebut. Meradang. Lupa akan tujuan dan cita-cita awal yang pernah digaungkan. Lelah berjalan untuk mencapainya. Continue reading “Merawat Mimpi”

Jaga Izzah, Walau Ngebet Nikah

Quarter life crisis, terjadi di sekitar usia 25-an tahun. Galau tentang kehidupan. Entah itu perkuliahan (bagi yang masih kuliah atau belum lulus), pekerjaan, atau pernikahan. Kali ini, saya akan bahas tentang galau nikah.

Instagram sebagai media sosial visual, sedikit banyak membawa pengaruh mengenai “kompor nikah” ini. Nikah muda, menjadi trending topic. Saya tak akan bahas mengenai para pemilik akun yang menyebarkan tagar nikah muda. Saya ingin menyenggol tentang para manusia penggalau nikah di sosmed, entah facebook, instagram ataupun status whatsapp.

Para penggalau nikah ini, entah hanya perasaan saya yang terlalu sensitif atau bagaimana. Mereka bikin kode keras di status-status sosial media. Seperti : sudah pantas kan?, ada yang mau?, siapa yang datang ke rumah? Continue reading “Jaga Izzah, Walau Ngebet Nikah”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑