Kami Peduli…

“Kami tanya ini-itu, tanda bahwa kami masih peduli kamu nak…”

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas memakai pakaian sesuai tren mode. Pakaian ketat, celana cutbray, celana pensil. Aku sering sebal dengan ibu dan bapak yang selalu mengecek pakaianku apakah pantas dipakai.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas main ke sana kemari tanpa orang tua mereka menanyai. Aku sering sebal dengan ibu yang sms dan telepon berulang kali jika aku pergi.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang diberi kebebasan keluar malam hari.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang menonton tivi tanpa kedua orang tua menemani.

Itu dulu.

Sekarang… Aku mulai memahami. Terasanya baru saat besar. Semua demi kebaikan diri. Bersyukur tiada bertepi. Beliau berdua bisa jadi sering sedih ketika aku melayangkan protes “kenapa gak boleh begini?”

Kau masih dibatasi? Kau masih ditanyai? Kau masih dimarahi? Kawan, bersyukurlah bahwa itu tandanya orang tuamu masih peduli. 🙂

Satu Bulan Lebih

Tak terasa. Ternyata sudah hampir dua tahun aku di sini. Dan betul kata mereka, sebentar.

Aku yang mulai dari nol. Memutuskan untuk masuk rumah itu. Tanpa pikir panjang. Teman-teman lain yang mendengar keinginanku, hanya bisa berujar,”Yakin kamu mau masuk sana? Tugasmu kan banyak. Gimana bagi waktunya?” (Nah, sekarang kejadian bener kan?) 😀

Entah kekuatan dari mana. Aku jalan terus. Bisa jadi karena terinspirasi novel Negeri Lima Menara. Terlalu menggebu-gebu semangat kala itu. Baru setahun di kampus. Masih maba unyu-unyu. Haha… Itu, merupakan momentum kacauku. Bisa jadi. Atau momentum bergalau hati.

Cukup. Dan inilah sekarang aku. Proses menuju pendewasaan. Aih, belum. Masih jauh dari dewasa. Adakah berubah? Ubah hanya wujud saja? Lagi, ternyata ubah perlu semua. Yang wujud maupun yang non wujud. Ubah lahir maupun batin.

Satu bulan lebih. Fase ini sebentar lagi akan selesai. Sudahkah kau makin memaknai arti?

Pagi Buta, Asma Amanina

Kita Sama-Sama

Apa yang kau tahu tentang kebersamaan? Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan?
Sekilas dua pertanyaan itu, membutuhkan jawaban yang sama. Tapi jelas berbeda.

Kau tahu? Mungkin sekedar tahu. Bisa menjawab dengan kata. Bisa jadi malah belum tentu kau rasakan. Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan? Bisa jadi, kau tak mampu ungkapkan dengan kata-kata. Saya yakin, jika kita pernah merasakan indahnya kebersamaan, susah dilupakan. (Saya takut ketika nanti ternyata kita lupa akan indahnya kebersamaan).

Kita sama-sama. Kita mungkin lupa. Gak ngeh. Mana gue tau. Kok bisa-bisanya kita bersama ya? Kita mungkin tak pernah minta, kita mau bersama-sama sama siapa. Dan kita juga tak pernah minta untuk sama-sama dengan kondisi sama.

Kita sama-sama (bersama-red) tapi kadang kita gak ngeh kalau kita juga dalam kondisi yang sama. Kita sama-sama untuk membangun cita-cita yang sama. Kita sama-sama dengan wadah yang sama. Kita sama-sama dengan ranah yang sama. Kita sama-sama untuk sama-sama melengkapi ketidaksamaan. Kita sama-sama untuk saling menasihati kalau kita alpa. Kita sama-sama karena kita membutuhkan. Bukankah begitu kawan?

Kita sama-sama. Kita sama-sama jengah. Kita sama-sama lelah. Kita sama-sama ingin pisah. Mungkin, kita sama-sama ingin marah? Eits, bukankah: Janganlah kamu marah…

Kita sama-sama dalam perbedaan. Hal ini bukan jadi alasan untuk saling melawan. Ingat, kita sama-sama belajar merajut pertemanan. Indah. Kita sama-sama telah melewatkan waktu bersama.