Ciptakan Kondisi Kepepet

Judul : The Power of Kepepet
Penulis : Jaya Setiabudi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2008
Cetakan : Kedelapan November 2011
Halaman : 114

 Kategori: Enterpreneurship

Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia. Begitu salah satu pesan penulis buku, The Power of Kepepet. Seperti itulah, Jaya Setiabudi memaparkan kisah nyata dari perjalanannya membangun kerajaan bisnis dari nol. Kesan pertama membaca buku ini adalah menarik dan unik. Pada cover buku, sudah terlihat bahwa digambarkan, seseorang berlari karena dikejar harimau yang buas.
Biasanya sebuah buku berisi pembuka pada bagian awal, tetapi di buku ini justru berbeda, dimana justru penutup dipakai sebagai pembuka. “Tutuplah masa lalu Anda yang suram sebelum membaca buku ini. Jangan berandai-andai seolah Anda pernah membaca buku seperti ini sebelumnya,”. Lalu, halaman 119 pembukanya, “Sekarang saatnya saya membuka lembaran baru sebagai seorang Entrepreneur. Selamat datang di dunia penuh kebebasan”.
Buku ini diperuntukan untuk para entrepreneur dan calon entrepreneur, namun sebenarnya buku ini baik dibaca oleh siapa saja.  Tidak melulu para wirausaha maupun orang yang ‘kebelet’ berwirausaha. Isinya mengungkap hal-hal praktis yang tidak hanya dapat diaplikasikan di dunia wirausaha tetapi juga kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan kenapa orang tidak tergerak untuk berubah. Penyebabnya ada dua hal, pertama, impiannya kurang kuat, dan kedua tidak kepepet. Kondisi kepepet adalah motivasi terbesar di dunia. Jika dalam kondisi kepepet, lalu tidak diberikan pilihan untuk ‘tidak bisa’, manusia akan berpikir keras dan mencari jalan bagaimana caranya untuk bisa. Impian tidak begitu efektif dibandingkan dengan kondisi kepepet.
Rasa takut seringkali dapat membuat seseorang mengeluarkan potensi diri yang sebenarnya. Misal, ketika esok ada ujian. Hampir semua siswa mengalami Sistem Kebut Semalam (SKS).
Kita akan mempelajari banyak materi dalam semalam. Otak kita seolah cepat menerima materi dengan cepat. Hebatnya, rasa kantuk dan capek pun bisa dikesampingkan.
Bila dicermati banyak orang-orang sukses yang sebelumnya dalam kondisi ‘kepepet’. Menurut penulis, cara untuk mengeluarkan potensi ‘kepepet’ adalah dengan membayangkan diri kita seolah-olah dalam keadaan kepepet.
Juga sedikit disingggung tentang bahaya mendengarkan lagu ‘loyo’. Secara ilmiah, lagu-lagu tersebut dapat mengurangi produksi hormon serotin dalam otak sehingga menyebabkan diri kita sedih dan membuat depresi. Hidup menjadi tidak semangat, mudah lesu dan loyo.
Dalam berusaha, kita dianjurkan untuk memiliki mentor atau pembimbing. Kita diharuskan mengalami sendiri proses trial and error, sehingga dapat membentuk karakter yang baik, karena akan sia-sia usia produktif ini. Toh, tidak ada salahnya belajar dari orang lain. Pilih mentor yang kuat diprakteknya, bukan sekedar teori. Sukses dahulu, baru jadi pembicara, atau sebaliknya, sukses karena menjadi pembicara.
Selain itu, disampaikan juga mengenai hitung-hitungan bila hendak membuka usaha, bagaimana menjalankan usaha agar memberikan penghasilan yang memadai dan menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Juga yang penting, jangan sampai overdosis! Akan percuma jika membaca buku ini hanya untuk sekedar menambah pengetahuan saja. Penulis juga menyampaikan bahwa buku tidak akan mengubah nasib seseorang. Perubahan ditentukan oleh kemauan diri. Lain halnya jika pembaca segera take action walau hanya berupa langkah kecil.
Mas Jay, panggilan akrab Jaya Setiabudi, menyampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Membaca buku ini tidak akan memakan waktu yang banyak. Isinya menarik. Ilustrasi memberikan humor yang mengurangi rasa bosan, selain juga memvisualisasikan tulisan. Buku ini menyabet National Best Seller dalam hitungan hari.
Intinya buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, meski terbitan beberapa tahun lalu tetapi isinya kini masih relevan. Jadi ingin tahu lebih lengkapnya? Silakan baca bukunya bagi yang penasaran. Rasakan kekuatan “The Power of Kepepet”. Jangan menyesal, jika nanti Anda merasa ‘kebelet’ ingin segera berwirausaha (take action).

(Rahma Darma Anggraini,
dimuat di Koran Teknopost-LPMT Fenomena UNY)