CRAFTY INSTINGS BUAT RUANGANKU

Awalnya, aku ngerasa kamarku penuh dan enggak banget alias berantakan. Pengen punya kamar kayak di film-film gitu. Alhasil, searching di mbah google tentang kamar-kamar. Trus ngerasa kalo cuma gambar-gambar doang, kayaknya kurang.
“Gue butuh tutorial nih.”
“Eh, ada buku yang ngebahas gak ya.” “Kebanyakan situs atau buku dari luar. Indonesia blm ada.”
“Eh, ternyata ada juga buku Indonesia yang ngebahas diy room project.”

DIY atau “Do It Yourself”, memancing kita untuk membuat atau memodifikasi sesuatu menjadi hal-hal keren. Hal ini memancing kreativitas kita. Apalagi karena bantuan media, seperti majalah, situs web, blog, dan youtube, tren DIY semakin akrab dikenal. Gak cuma buat kerajinan aja, tapi juga punya makna yang luas di segala bidang kehidupan.

Buku ini ditulis oleh 7 craft blogger. Ada Nike Prima dan Miranti dari Living Loving, Putri Santoso dari Mola, Fauzan dari Maken Living, Amesh dari Dreamesh, Brinnaloy Yuli dari BJBJ, Prima atau Embun dari Youthdew dan Fenty dari Monsterbuaya.
Tutorial dari mulai pom pom, jam dinding kayu, dsb.

Pas nyari buku ini, muter-muter beberapa toko buku. Mulai dari Togamas Gejayan, Sosial Agency Book, sampai Gramedia gak dapet. Akhirnya nemu di Togamas Sudirman. Alhamdulillah. Buku ini lumayan lah untuk refresh kondisi kamar.

Iklan

Belajar Bahasa Arab

Kesempatan dua tahun itu pun berlalu tanpa berbekas. Kembali diingat-ingat tapi tak berbekas. Aku banyak membolos kelas itu. Awalnya, aku memang merasa kesulitan. Belum pernah mendapatkannya. Sedari kanak-kanak sampai remaja menjelang dewasa. Merasa tidak nyaman dan akhirnya masa bodoh terhadap pelajaran ini.

Menyesal. Selalu saja ini di akhir di setiap pekerjaan yang kau tidak lakukan dengan sepenuh hati. Aku malu sekali. Hal yang paling menohok adalah ketika aku diminta untuk mengucapkan bahasa Arab angka satu sampai dengan sepuluh. Aku tidak hafal. (Beruntungnya kau yang pernah mendapatkan ini sedari kecil)

Aku sadar bahwa kemampuan berbahasaku tidak terlalu bagus. Aku sadar bahwa aku tidak secerdas teman-temanku di asrama ini. Aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan suplemen bahasa ini di bangku kuliah seperti teman-temanku di universitas Islam. Aku sadar tak ada yang bisa membuatku menguasai bahasa Arab kecuali ada kemauanku dan atas izin-Nya. Aku ber-azzam, insya Allah aku akan mempunyai kesempatan kedua untuk mempelajarinya.

Bahasa Arab: Induk Segala Bahasa

Untuk mempermudah menghafal al Quran, kau perlu bisa bahasa Arab. Sedikit-sedikit tak apa.

Aku lupa bulan apa itu. Kalau tidak salah Juni. Ada info belajar bahasa Arab dengan aplikasi WhatApps. Program BISA, namanya. Gratis. Kita diminta meluangkan waktu minimal satu jam setiap minggunya, kemudian ada tugas yang harus dikerjakan. Tugas berupa hafalan dan tulisan. Audio serta gambar dikirim lewat pesan pribadi ke musyrifah (pemandu) kelompok. Aku mencoba program ini dan hanya bertahan dua minggu saja. Setelah itu saya di dropout karena tidak mengerjakan tugas.

Harapan untuk bisa bahasa Arab, pupus sudah…

Eh… Ada info lagi di WA. Kelas privat bahasa Arab. Ini kelas nyata bukan maya. 😀 Tapi aku bisa nggak ya? Kuliahku gimana nih. Bismillah, insya Allah bisa. Satu kelompok tiga orang. Mba Uti, temanku di Asma Amanina 4; Bu Dina, ibu tiga orang anak; dan aku. Pengajarnya bu Kenyo. Alhamdulillah, sudah berjalan satu bulan.

Kami Peduli…

“Kami tanya ini-itu, tanda bahwa kami masih peduli kamu nak…”

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas memakai pakaian sesuai tren mode. Pakaian ketat, celana cutbray, celana pensil. Aku sering sebal dengan ibu dan bapak yang selalu mengecek pakaianku apakah pantas dipakai.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas main ke sana kemari tanpa orang tua mereka menanyai. Aku sering sebal dengan ibu yang sms dan telepon berulang kali jika aku pergi.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang diberi kebebasan keluar malam hari.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang menonton tivi tanpa kedua orang tua menemani.

Itu dulu.

Sekarang… Aku mulai memahami. Terasanya baru saat besar. Semua demi kebaikan diri. Bersyukur tiada bertepi. Beliau berdua bisa jadi sering sedih ketika aku melayangkan protes “kenapa gak boleh begini?”

Kau masih dibatasi? Kau masih ditanyai? Kau masih dimarahi? Kawan, bersyukurlah bahwa itu tandanya orang tuamu masih peduli. 🙂

Satu Bulan Lebih

Tak terasa. Ternyata sudah hampir dua tahun aku di sini. Dan betul kata mereka, sebentar.

Aku yang mulai dari nol. Memutuskan untuk masuk rumah itu. Tanpa pikir panjang. Teman-teman lain yang mendengar keinginanku, hanya bisa berujar,”Yakin kamu mau masuk sana? Tugasmu kan banyak. Gimana bagi waktunya?” (Nah, sekarang kejadian bener kan?) 😀

Entah kekuatan dari mana. Aku jalan terus. Bisa jadi karena terinspirasi novel Negeri Lima Menara. Terlalu menggebu-gebu semangat kala itu. Baru setahun di kampus. Masih maba unyu-unyu. Haha… Itu, merupakan momentum kacauku. Bisa jadi. Atau momentum bergalau hati.

Cukup. Dan inilah sekarang aku. Proses menuju pendewasaan. Aih, belum. Masih jauh dari dewasa. Adakah berubah? Ubah hanya wujud saja? Lagi, ternyata ubah perlu semua. Yang wujud maupun yang non wujud. Ubah lahir maupun batin.

Satu bulan lebih. Fase ini sebentar lagi akan selesai. Sudahkah kau makin memaknai arti?

Pagi Buta, Asma Amanina

Kita Sama-Sama

Apa yang kau tahu tentang kebersamaan? Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan?
Sekilas dua pertanyaan itu, membutuhkan jawaban yang sama. Tapi jelas berbeda.

Kau tahu? Mungkin sekedar tahu. Bisa menjawab dengan kata. Bisa jadi malah belum tentu kau rasakan. Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan? Bisa jadi, kau tak mampu ungkapkan dengan kata-kata. Saya yakin, jika kita pernah merasakan indahnya kebersamaan, susah dilupakan. (Saya takut ketika nanti ternyata kita lupa akan indahnya kebersamaan).

Kita sama-sama. Kita mungkin lupa. Gak ngeh. Mana gue tau. Kok bisa-bisanya kita bersama ya? Kita mungkin tak pernah minta, kita mau bersama-sama sama siapa. Dan kita juga tak pernah minta untuk sama-sama dengan kondisi sama.

Kita sama-sama (bersama-red) tapi kadang kita gak ngeh kalau kita juga dalam kondisi yang sama. Kita sama-sama untuk membangun cita-cita yang sama. Kita sama-sama dengan wadah yang sama. Kita sama-sama dengan ranah yang sama. Kita sama-sama untuk sama-sama melengkapi ketidaksamaan. Kita sama-sama untuk saling menasihati kalau kita alpa. Kita sama-sama karena kita membutuhkan. Bukankah begitu kawan?

Kita sama-sama. Kita sama-sama jengah. Kita sama-sama lelah. Kita sama-sama ingin pisah. Mungkin, kita sama-sama ingin marah? Eits, bukankah: Janganlah kamu marah…

Kita sama-sama dalam perbedaan. Hal ini bukan jadi alasan untuk saling melawan. Ingat, kita sama-sama belajar merajut pertemanan. Indah. Kita sama-sama telah melewatkan waktu bersama.

Aku dan TI

Sedari dini

Kusukai ini
Di bangku sekolah dasar kelas enam
Orangtua membelikan
Seperangkat…
Masih melekat teringat
Ah, dulu ini dianggap mewah
Hari gini?
Sudah biasa aja kali…
Jatuh hati
Masih tetap, ia tak mau pergi
Makin ingin dilupa tak akan bisa
Jauh…?
Ia masih setia menghampiri
Mengiringi setiap aku “mendaki”

Dan sampai saat ini aku masih menanti
Kesempatan untuk menggali
Memperdalam ilmu TI
Entah kapan entah di mana lagi
Bukankah Engkau menyukai hamba-Mu yang tak lelah mencari??

Tutorial PAI UNY : MiniMagz Circle-E

Buletin adalah salah satu program kerja Tutorial PAI FT UNY. Saya yang diamanahi untuk membuatnya. Mendadak. Malam hari bikin konsep bareng mba Lulu Nafisah. Keesokannya, karena keterbatasan SDM, ya jadinya bikin sendirian dari isi, desain, dan layout. Prosesnya dari pagi sampai sore. Enggak sempat ke percetakan, setelah selesai maka langsung cetak di fotokopian terdekat. Harganya dua kali lipat lebih mahal dari cetak di percetakan. Malam selesai cetak, dan esok pagi pendistribusi ke maba (mahasiswa baru).

Keterbatasan dana, menghasilkan buletin grayscle. Coba kalau berwarna, pasti akan lebih menarik.

circleengineer, nama buletin yang kami usung. Circle adalah lingkar, dan engineer adalah orang teknik. Maksudnya, mahasiswa teknik mengikuti kegiatan kepemanduan Tutorial PAI (biasanya kita berkumpul dengan posisi duduk melingkar).

 
Inspirasi dari beberapa buletin mini dari berbagai lembaga, maka jadilah seperti ini. ^_^
 

Makan Idealisme?

Sebenarnya kepahaman mengenai idealisme dan realisme baru saya dapatkan ketika bangku perguruan tinggi. Telat banget baru dapat ketika umur udah tau kayak gini. Memulai petualangan mencari jati diri dengan ikut organisasi sana sini. Lempar-lemparan opini. Seringnya terima tanggapan kayak:

“Sudah deh, realistis aja gak usah yang aneh-aneh.”

Pernah dapat tanggapan kayak gini? Saya lumayan sering. Gak tau deh kenapa. Entah terlalu “jauh” tertinggal dengan kenyataan, atau berbeda frekuensi dengan “teman” bicara saya.

Gak bolehkah kita idealis? Bukankah kemajuan dan perubahan bisa terjadi karena ada mereka para idealis? Idealis membuat harga. Harga diri, harga bangsa. Mau ikut realita yang sudah ada, maka sama dengan kenyataan yang ada…  Stagnan. Idealisme menelurkan ide gagasan. Membangun mimpi dan harapan. Memunculkan gairah pergerakan. Mau mematikan gagasan, harapan, dan semangat pergerakan?

Ciptakan Kondisi Kepepet

Judul : The Power of Kepepet
Penulis : Jaya Setiabudi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2008
Cetakan : Kedelapan November 2011
Halaman : 114

 Kategori: Enterpreneurship

Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia. Begitu salah satu pesan penulis buku, The Power of Kepepet. Seperti itulah, Jaya Setiabudi memaparkan kisah nyata dari perjalanannya membangun kerajaan bisnis dari nol. Kesan pertama membaca buku ini adalah menarik dan unik. Pada cover buku, sudah terlihat bahwa digambarkan, seseorang berlari karena dikejar harimau yang buas.
Biasanya sebuah buku berisi pembuka pada bagian awal, tetapi di buku ini justru berbeda, dimana justru penutup dipakai sebagai pembuka. “Tutuplah masa lalu Anda yang suram sebelum membaca buku ini. Jangan berandai-andai seolah Anda pernah membaca buku seperti ini sebelumnya,”. Lalu, halaman 119 pembukanya, “Sekarang saatnya saya membuka lembaran baru sebagai seorang Entrepreneur. Selamat datang di dunia penuh kebebasan”.
Buku ini diperuntukan untuk para entrepreneur dan calon entrepreneur, namun sebenarnya buku ini baik dibaca oleh siapa saja.  Tidak melulu para wirausaha maupun orang yang ‘kebelet’ berwirausaha. Isinya mengungkap hal-hal praktis yang tidak hanya dapat diaplikasikan di dunia wirausaha tetapi juga kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan kenapa orang tidak tergerak untuk berubah. Penyebabnya ada dua hal, pertama, impiannya kurang kuat, dan kedua tidak kepepet. Kondisi kepepet adalah motivasi terbesar di dunia. Jika dalam kondisi kepepet, lalu tidak diberikan pilihan untuk ‘tidak bisa’, manusia akan berpikir keras dan mencari jalan bagaimana caranya untuk bisa. Impian tidak begitu efektif dibandingkan dengan kondisi kepepet.
Rasa takut seringkali dapat membuat seseorang mengeluarkan potensi diri yang sebenarnya. Misal, ketika esok ada ujian. Hampir semua siswa mengalami Sistem Kebut Semalam (SKS).
Kita akan mempelajari banyak materi dalam semalam. Otak kita seolah cepat menerima materi dengan cepat. Hebatnya, rasa kantuk dan capek pun bisa dikesampingkan.
Bila dicermati banyak orang-orang sukses yang sebelumnya dalam kondisi ‘kepepet’. Menurut penulis, cara untuk mengeluarkan potensi ‘kepepet’ adalah dengan membayangkan diri kita seolah-olah dalam keadaan kepepet.
Juga sedikit disingggung tentang bahaya mendengarkan lagu ‘loyo’. Secara ilmiah, lagu-lagu tersebut dapat mengurangi produksi hormon serotin dalam otak sehingga menyebabkan diri kita sedih dan membuat depresi. Hidup menjadi tidak semangat, mudah lesu dan loyo.
Dalam berusaha, kita dianjurkan untuk memiliki mentor atau pembimbing. Kita diharuskan mengalami sendiri proses trial and error, sehingga dapat membentuk karakter yang baik, karena akan sia-sia usia produktif ini. Toh, tidak ada salahnya belajar dari orang lain. Pilih mentor yang kuat diprakteknya, bukan sekedar teori. Sukses dahulu, baru jadi pembicara, atau sebaliknya, sukses karena menjadi pembicara.
Selain itu, disampaikan juga mengenai hitung-hitungan bila hendak membuka usaha, bagaimana menjalankan usaha agar memberikan penghasilan yang memadai dan menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Juga yang penting, jangan sampai overdosis! Akan percuma jika membaca buku ini hanya untuk sekedar menambah pengetahuan saja. Penulis juga menyampaikan bahwa buku tidak akan mengubah nasib seseorang. Perubahan ditentukan oleh kemauan diri. Lain halnya jika pembaca segera take action walau hanya berupa langkah kecil.
Mas Jay, panggilan akrab Jaya Setiabudi, menyampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Membaca buku ini tidak akan memakan waktu yang banyak. Isinya menarik. Ilustrasi memberikan humor yang mengurangi rasa bosan, selain juga memvisualisasikan tulisan. Buku ini menyabet National Best Seller dalam hitungan hari.
Intinya buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, meski terbitan beberapa tahun lalu tetapi isinya kini masih relevan. Jadi ingin tahu lebih lengkapnya? Silakan baca bukunya bagi yang penasaran. Rasakan kekuatan “The Power of Kepepet”. Jangan menyesal, jika nanti Anda merasa ‘kebelet’ ingin segera berwirausaha (take action).

(Rahma Darma Anggraini,
dimuat di Koran Teknopost-LPMT Fenomena UNY)

Blog di WordPress.com.

Atas ↑