Belajar Bahasa Arab

Kesempatan dua tahun itu pun berlalu tanpa berbekas. Kembali diingat-ingat tapi tak berbekas. Aku banyak membolos kelas itu. Awalnya, aku memang merasa kesulitan. Belum pernah mendapatkannya. Sedari kanak-kanak sampai remaja menjelang dewasa. Merasa tidak nyaman dan akhirnya masa bodoh terhadap pelajaran ini.

Menyesal. Selalu saja ini di akhir di setiap pekerjaan yang kau tidak lakukan dengan sepenuh hati. Aku malu sekali. Hal yang paling menohok adalah ketika aku diminta untuk mengucapkan bahasa Arab angka satu sampai dengan sepuluh. Aku tidak hafal. (Beruntungnya kau yang pernah mendapatkan ini sedari kecil)

Aku sadar bahwa kemampuan berbahasaku tidak terlalu bagus. Aku sadar bahwa aku tidak secerdas teman-temanku di asrama ini. Aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan suplemen bahasa ini di bangku kuliah seperti teman-temanku di universitas Islam. Aku sadar tak ada yang bisa membuatku menguasai bahasa Arab kecuali ada kemauanku dan atas izin-Nya. Aku ber-azzam, insya Allah aku akan mempunyai kesempatan kedua untuk mempelajarinya.

Bahasa Arab: Induk Segala Bahasa

Untuk mempermudah menghafal al Quran, kau perlu bisa bahasa Arab. Sedikit-sedikit tak apa.

Aku lupa bulan apa itu. Kalau tidak salah Juni. Ada info belajar bahasa Arab dengan aplikasi WhatApps. Program BISA, namanya. Gratis. Kita diminta meluangkan waktu minimal satu jam setiap minggunya, kemudian ada tugas yang harus dikerjakan. Tugas berupa hafalan dan tulisan. Audio serta gambar dikirim lewat pesan pribadi ke musyrifah (pemandu) kelompok. Aku mencoba program ini dan hanya bertahan dua minggu saja. Setelah itu saya di dropout karena tidak mengerjakan tugas.

Harapan untuk bisa bahasa Arab, pupus sudah…

Eh… Ada info lagi di WA. Kelas privat bahasa Arab. Ini kelas nyata bukan maya. 😀 Tapi aku bisa nggak ya? Kuliahku gimana nih. Bismillah, insya Allah bisa. Satu kelompok tiga orang. Mba Uti, temanku di Asma Amanina 4; Bu Dina, ibu tiga orang anak; dan aku. Pengajarnya bu Kenyo. Alhamdulillah, sudah berjalan satu bulan.

Kami Peduli…

“Kami tanya ini-itu, tanda bahwa kami masih peduli kamu nak…”

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas memakai pakaian sesuai tren mode. Pakaian ketat, celana cutbray, celana pensil. Aku sering sebal dengan ibu dan bapak yang selalu mengecek pakaianku apakah pantas dipakai.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang bebas main ke sana kemari tanpa orang tua mereka menanyai. Aku sering sebal dengan ibu yang sms dan telepon berulang kali jika aku pergi.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang diberi kebebasan keluar malam hari.

Aku sering iri dengan teman-teman sebaya yang menonton tivi tanpa kedua orang tua menemani.

Itu dulu.

Sekarang… Aku mulai memahami. Terasanya baru saat besar. Semua demi kebaikan diri. Bersyukur tiada bertepi. Beliau berdua bisa jadi sering sedih ketika aku melayangkan protes “kenapa gak boleh begini?”

Kau masih dibatasi? Kau masih ditanyai? Kau masih dimarahi? Kawan, bersyukurlah bahwa itu tandanya orang tuamu masih peduli. 🙂

Satu Bulan Lebih

Tak terasa. Ternyata sudah hampir dua tahun aku di sini. Dan betul kata mereka, sebentar.

Aku yang mulai dari nol. Memutuskan untuk masuk rumah itu. Tanpa pikir panjang. Teman-teman lain yang mendengar keinginanku, hanya bisa berujar,”Yakin kamu mau masuk sana? Tugasmu kan banyak. Gimana bagi waktunya?” (Nah, sekarang kejadian bener kan?) 😀

Entah kekuatan dari mana. Aku jalan terus. Bisa jadi karena terinspirasi novel Negeri Lima Menara. Terlalu menggebu-gebu semangat kala itu. Baru setahun di kampus. Masih maba unyu-unyu. Haha… Itu, merupakan momentum kacauku. Bisa jadi. Atau momentum bergalau hati.

Cukup. Dan inilah sekarang aku. Proses menuju pendewasaan. Aih, belum. Masih jauh dari dewasa. Adakah berubah? Ubah hanya wujud saja? Lagi, ternyata ubah perlu semua. Yang wujud maupun yang non wujud. Ubah lahir maupun batin.

Satu bulan lebih. Fase ini sebentar lagi akan selesai. Sudahkah kau makin memaknai arti?

Pagi Buta, Asma Amanina

Kita Sama-Sama

Apa yang kau tahu tentang kebersamaan? Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan?
Sekilas dua pertanyaan itu, membutuhkan jawaban yang sama. Tapi jelas berbeda.

Kau tahu? Mungkin sekedar tahu. Bisa menjawab dengan kata. Bisa jadi malah belum tentu kau rasakan. Apa yang kau rasakan tentang arti kebersamaan? Bisa jadi, kau tak mampu ungkapkan dengan kata-kata. Saya yakin, jika kita pernah merasakan indahnya kebersamaan, susah dilupakan. (Saya takut ketika nanti ternyata kita lupa akan indahnya kebersamaan).

Kita sama-sama. Kita mungkin lupa. Gak ngeh. Mana gue tau. Kok bisa-bisanya kita bersama ya? Kita mungkin tak pernah minta, kita mau bersama-sama sama siapa. Dan kita juga tak pernah minta untuk sama-sama dengan kondisi sama.

Kita sama-sama (bersama-red) tapi kadang kita gak ngeh kalau kita juga dalam kondisi yang sama. Kita sama-sama untuk membangun cita-cita yang sama. Kita sama-sama dengan wadah yang sama. Kita sama-sama dengan ranah yang sama. Kita sama-sama untuk sama-sama melengkapi ketidaksamaan. Kita sama-sama untuk saling menasihati kalau kita alpa. Kita sama-sama karena kita membutuhkan. Bukankah begitu kawan?

Kita sama-sama. Kita sama-sama jengah. Kita sama-sama lelah. Kita sama-sama ingin pisah. Mungkin, kita sama-sama ingin marah? Eits, bukankah: Janganlah kamu marah…

Kita sama-sama dalam perbedaan. Hal ini bukan jadi alasan untuk saling melawan. Ingat, kita sama-sama belajar merajut pertemanan. Indah. Kita sama-sama telah melewatkan waktu bersama.

Aku dan TI

Sedari dini

Kusukai ini
Di bangku sekolah dasar kelas enam
Orangtua membelikan
Seperangkat…
Masih melekat teringat
Ah, dulu ini dianggap mewah
Hari gini?
Sudah biasa aja kali…
Jatuh hati
Masih tetap, ia tak mau pergi
Makin ingin dilupa tak akan bisa
Jauh…?
Ia masih setia menghampiri
Mengiringi setiap aku “mendaki”

Dan sampai saat ini aku masih menanti
Kesempatan untuk menggali
Memperdalam ilmu TI
Entah kapan entah di mana lagi
Bukankah Engkau menyukai hamba-Mu yang tak lelah mencari??

Tutorial PAI UNY : MiniMagz Circle-E

Buletin adalah salah satu program kerja Tutorial PAI FT UNY. Saya yang diamanahi untuk membuatnya. Mendadak. Malam hari bikin konsep bareng mba Lulu Nafisah. Keesokannya, karena keterbatasan SDM, ya jadinya bikin sendirian dari isi, desain, dan layout. Prosesnya dari pagi sampai sore. Enggak sempat ke percetakan, setelah selesai maka langsung cetak di fotokopian terdekat. Harganya dua kali lipat lebih mahal dari cetak di percetakan. Malam selesai cetak, dan esok pagi pendistribusi ke maba (mahasiswa baru).

Keterbatasan dana, menghasilkan buletin grayscle. Coba kalau berwarna, pasti akan lebih menarik.

circleengineer, nama buletin yang kami usung. Circle adalah lingkar, dan engineer adalah orang teknik. Maksudnya, mahasiswa teknik mengikuti kegiatan kepemanduan Tutorial PAI (biasanya kita berkumpul dengan posisi duduk melingkar).

 
Inspirasi dari beberapa buletin mini dari berbagai lembaga, maka jadilah seperti ini. ^_^
 

Makan Idealisme?

Sebenarnya kepahaman mengenai idealisme dan realisme baru saya dapatkan ketika bangku perguruan tinggi. Telat banget baru dapat ketika umur udah tau kayak gini. Memulai petualangan mencari jati diri dengan ikut organisasi sana sini. Lempar-lemparan opini. Seringnya terima tanggapan kayak:

“Sudah deh, realistis aja gak usah yang aneh-aneh.”

Pernah dapat tanggapan kayak gini? Saya lumayan sering. Gak tau deh kenapa. Entah terlalu “jauh” tertinggal dengan kenyataan, atau berbeda frekuensi dengan “teman” bicara saya.

Gak bolehkah kita idealis? Bukankah kemajuan dan perubahan bisa terjadi karena ada mereka para idealis? Idealis membuat harga. Harga diri, harga bangsa. Mau ikut realita yang sudah ada, maka sama dengan kenyataan yang ada…  Stagnan. Idealisme menelurkan ide gagasan. Membangun mimpi dan harapan. Memunculkan gairah pergerakan. Mau mematikan gagasan, harapan, dan semangat pergerakan?